Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Tanda Munculnya Vitligo Penyakit yang Tidak Menular

Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

Vitiligo penyakit kulit yang mengakibatkan muncul bercak putih yang tidak di harapkan pada kukit yang menyebabkan penurunan kepercayaan diri dan stress yang berkepanjangan. Vitiligo berakaitan dengan depresi, menimbulkan bercak terhadap kulit, vitiligo tidak di sebabkan oleh pengkonsumsi an makanan tidak sama sekali memengaruhin sama sekalipun untuk pemilihan makanan, peyebab muncul nya vitiligo adalah gangguan autoimun dimana sistem imun tubuh menyerang dan membunuh sel-sel pembuatan warna kulit, melanosit.

Dr. Anthony Handoko, SpKK CEO Klinik Pramudia membuka sambutan, mengatakan “ klinik pramudia mendedikasikan pelayanan medis di bidang kulit dan kelamin. Motto kami yaitu: CURE, CARE, COMFORT, pelayanan yang ada meliputi dermatologi umum (penyakit kulit umum), dermatologi anak (penyakit kulit anak), dermatologi geriatri (penyakit kulit pada manula) dan penyakit infeksi menular seksual (IMS). Penyakit kulit yang sering di tabgani klinik pramudia adalah vitilogi dan klinik Pramudia memiliki dokter-dokter berpengalaman dalam penanganan penyakit ini. Keberhasilan pengobatan atau terapi vitiligo tergantung pada kerja sama antara pengalaman dokter dan kedisiplinan pasien.

Dr. Dian Pratiwi, SpKK, salah satu dokter klinik pramudia mengatakan, “ vitiligo merupakan penyakit hilangnya warna kulit yang berbentuk bercak – bercak warna putih susus. Vitiligo tidak dapat diprediksi dan dapat terjadi di bagian mana pun dari kukit tubuh, rambut dan selput lendir misalnya bagian dalan mulut. Vitiligo terjadi ketika sel-sel yang memproduksi melanin yaitu melanosit mati atau berhenti berfungsi. Penyebab pasti vitiligo masih belum sepenuhnya di pahami, banyak bukti yabg menunjukkan bahwa berbagai mekanisme seperti, kelainan metabolik, stres oksidatif, respons autoimun, dan faktor genetik berkontribusi pada tumbulnya vitiligo. Dapat dicari tanda tanda vitiligo seperti kehilangan warna kulit yang merata menjadi putih susu, uban pada rambut di kulit kepala, bulu mata, alis atau janggut. Juga terdapat kehilangan warna pada bagian dalam mulut dan hidung, kehilangan atau perubahan warna lapisan dalam bola mata (retina).

Dr. ronny handoko, SpKK, dokter spesialis kulit dan kelamin senior pada klinik pramudia mengatakan “vitiligo dapat menyerang segala usia, baik anak-anak maupun dewasa. Pada anak-anak, yang sering di temukan adalah segmental vitiligo. Gejala yang mudah dilihat adalh rambut uban yang secara dini muncul. Sedangkan pada dewasa, yang sering di temukan adalah vitiligo non-segmental, misalnya seperti vitiligo akibat fenomena Koebner (bekas luka yang berubah menjadi vitiligo) dan Occupational vitiligo (kemunculan vitiligo akibat pekerjaan yang terpapar oleh bahan kimia).

“Pada anak-anak, perlu dilakukan pengobatan secara dini agar penyakit tidak meluas dan tingkat keberhasilan pengobatan lebih baik. Terapi yang efektif dan berhasil bagi orang dewasa, belum tentu efektif bagi anak-anak. Terdapat metode terapi yang semaking berkembang dalam mengatasi vitiligo. Misalnya terapi Topical Corticosteroid (TCS) dan Topical Calcineurin Inhibition (TCI). Pengobatan TCS diawali dengan uji coba 3 bulan, dilakukan sekali setiap hari agar menstabilkan dan miningkatkan repigmintasi. Terdapat efek samping dari TCS atrofit pada kulit, stretch mark dan munculnya teleangiektasis. TCI memiliki 2 bentuk, yaitu salep dan krim.”

“Selain 2 terapi tersebut , ada beberapa alternatif terapi lainnya, yaitu terapi sinar PUVA dan UVB-NB, terapi kombinasi UVA dan UVB-NB, terapi kamuflase kulit, terapi depigmentasi, dan sistematik lainnya” terangnya.

“Pada dasarnya, pengobatan terhadap vitiligo tergolong pengobatan jangka panjang dan lama dan tidak bisa di prediksi. Secara psikologis, penderita sudah harus siap menghadapi tantangan pengobatan dan quality of life (QOL). Tujuan nya adalah menacapai lesi yang sembuh atau stabil. Tidak dianjurkan untuk pengobatan alternatif non-medis. Penderita vitiligo disarankan berkumpul untuk bertukar pikiran dan saling mneguatkan.” Tutup dr. ronny.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *