Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Menghadapi Sikap Agresif Balita

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Jangan kaget ya Moms, ketika si kecil yang biasanya manis ternyata bisa menunjukkan sikap agresif. Di usia dua tahun, dia bisa saja tiba-tiba menggigit temannya atau bahkan memukul.

Sikap agresif adalah bagian dari tumbuh kembangnya. Keinginan untuk mandiri, dorongan impulsif dan keterbatasan kemampuan berkomunikasi akhirnya membuat ia memilih cara fisik. “Dalam batas-batas tertentu, memukul dan menggigit yang dilakukan batita masih dianggap normal. Di usia 2 tahun, anak biasanya terfokus pada dirinya sendiri,” tutur Nadine Block, Direktur Eksekutif  Center for Effective Discipline, di Columbus, Ohio.

Walaupun termasuk normal, perilaku kasar seperti itu tentu tak bisa dibiarkan dan membuat Moms & Dads kuatir. Jangan sampai si kecil tumbuh sebagai bully atau seseorang yang sangat egosentris.  Moms & Dads perlu mengajari si kecil untuk mengendalikan sikapnya dan mencontohkan cara lain untuk mengekspesikan perasaan.

Beberapa tindakan ini perlu dilakukan ketika melihat si kecil bersikap agresif:

Cepat merespon. Ketika si kecil  memukul kakaknya misalnya, dan tampak akan memukul lagi, segera hentikan. Kadang Moms & Dads tergoda untuk menunggu beberapa saat, apalagi Moms & Dads merasa baru menegur mereka karena berantem. Lebih cepat dihentikan lebih baik agar si kecil langsung menyadari tindakannya salah.

Jauhkan dia dan berikan time out. Segera pisahkan si kecil dari orang yang dikasarinya.  Memberinya time out akan membuat si kecil belajar tentang konsekuensi dan menyadari sikap agresif membuat dia kehilangan kesenangan bermain. Tidak perlu lama Moms, untuk si kecil berusia 2 tahun, time out beberapa detik saja sudah cukup.

Berikan kesempatan. Setelah menjauhkannya dari ‘arena’, Moms bisa menemaninya duduk sambil memperhatikan anak-anak lain bermain. Jelaskan pada si kecil, ia boleh bergabung dengan teman-temannya lagi bila ia sudah siap bermain tanpa menyakiti orang lain.

Bersabar. Jangan pernah membentak, mengatakan dia nakal atau bahkan memukulnya ketika Moms merasa marah atas perbuatan agresif si kecil. Sikap marah Moms tidak akan memperbaiki perilakunya, si kecil malah cenderung meniru kemarahan Moms. Perlihatkan bagaimana Moms bisa bersikap tenang dan mengendalikan emosi kepadanya.

Konsisten. Tunjukkan respon yang sama setiap kali si kecil bertingkah kasar. Sikap konsisten Moms & Dads akan membentuk pola pada pemahaman si kecil.

Tunjukkan dan jelaskan. Setelah Moms menjauhkannya dari orang yang ia sakiti, tunggu sampai situasi lebih tenang dan ajaklah dia mengobrol. Tanyakan mengapa dia bersikap kasar. Lalu jelaskan marah boleh, tapi dilarang memukul, menendang atau menggigit orang lain. Ajari mengekspresikan kemarahan dengan cara lain, misalnya dengan menendang bola, meninju bantal, memberitahu orang dewasa atau langsung memprotes sikap temannya yang membuat dia marah, tanpa berteriak. Selain mencontohkan  dengan sikap Moms sendiri, Moms bisa menunjukkan contoh lain di buku atau video. Batasi tayangan TV yang menampilkan sikap agresif untuk si kecil.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *