Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Jangan Segan Berkonsultasi Pada Psikiater

Eugenia Siahaan, dr. NoRiYu, Dr. Nurmiati Amir, dan dr. Eka Viora
Eugenia Siahaan, dr. NoRiYu, Dr. Nurmiati Amir, dan dr. Eka Viora

Tepat di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau HKJS, 10 Oktober, para psikiater yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), memaparkan peranan mereka dalam mencegah gangguan jiwa di masyarakat. Selama ini gangguan jiwa sering diidentikkan dengan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, padahal ada banyak tipe masalah kejiwaan dari yang ringan sampai berat, yang dapat ditangani oleh keluarga hingga tenaga profesional.

Menurut dr. Eka Viora SpKJ (K), Ketua Umum PP PDSKJI, hingga saat ini Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ berat hanya 3% dari total kasus masalah kesehatan jiwa. Kecemasan, depresi hingga sikap adiksi termasuk masalah yang perlu ditangani psikiater. Sayangnya stigma yang melekat pada ODGJ hingga tempat perawatan dan para psikiater sering membuat masyarakat enggan berkonsultasi pada psikiater sehingga masalah berkembang menjadi gangguan stress akut atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

“Untuk memperluas pengetahuan masyarakat tentang apa itu psikiatri dan perannya, seorang psikiater harus melakukan pendekatan secara holistic. Ia perlu menelusuri secara rinci aspek biologi atau fisik, psikologi atau mental dan emosional, serta sosial budaya. Itulah sebabnya psikiatri tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik, dan sebaliknya. Kedokteran jiwa dan fisik sama-sama dibutuhkan untuk mengembalikan kesehatan secara optimal serta hidup yang lebih produktif dan berkualitas,” tutur dr. Eka Viora dalam jumpa pers di Cimandiri One, Jakarta Pusat, 10 Oktober.

Dr. dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K) – Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri mengungkap, gangguan jiwa dipicu oleh dua kategori stesor. Pertama, stresor dependen atau usual stressor, dan kedua stresor independen atau katastrofik.

Usual stressor bersifat individual, seperti perceraian, kematian pasangan, penahanan dan lainnya. Berat ringannya bergantung pada persepsi seseorang, kepribadian, daya tahan psikologik, pengalaman dan kemampuan mengatasi stresor. Sedangkan catastrophic stressor adalah stresor yang mengancam nyawa, misalnya bencana tsunami, atau yang mengancam integritas seperti perkosaan. Semua orang akan menganggap stresor katastrofik sebagai stresor yang sangat berat,” paparnya.

Stresor katastrofik seperti bencana alam juga memicu masalah psikososial. Upaya pencegahan dampak psikososial disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014, yang disahkan saat dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ menjabat sebagai Ketua Panitia Kerja UU Kesehatan Jiwa Komisi IX DPR RI 2012-2014. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pertolongan pertama psikologis.

“Indonesia rentan mengalami bencana alam, yang dapat meningkatkan risiko gangguan jiwa sebanyak 20% bagi para penyintas atau survivor bencana. Perlu intervensi psikososial  paska bencana alam, dan salah satu bentuknya adalah metode Psychological First Aid (PFA),” ujar psikiater yang akrab disapa NoRiYu ini.

Wakil Bidang Publikasi-Kemitraan-Hubungan Luar Negeri PP PDSKJI ini menambahkan, selain mengadakan pelatihan PFA untuk berbagai pihak di area rawan bencana, PDSKJI juga memiliki layanan kesehatan psikologis mobile yang dapat menjangkau daerah bencana. Layanan ini juga dioperasikan di kawasan urban, terutama di sekolah-sekolah menengah atas. “Karena suicidal thought paling banyak ditemui di kelompok usia 18-30 tahun,” ujarnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *