Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

GSK Luncurkan Gerakan Melawan Demam Berdarah

Pawan Sud, DR. Aman B. Pulungan dan drg. R. Vensya Sitohang meluncurkan Gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah
Pawan Sud, drg. R. Vensya Sitohang dan DR. Aman B. Pulungan meluncurkan Gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah

GSK Consumer Healthcare Indonesia sangat peduli dengan wabah demam berdarah dengue atau DBD yang selalu terjadi di negara kita setiap tahun. Bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI dan didukung  Kementerian Kesehatan, perusahaan kesehatan global berbasis sains ini meluncurkan gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah, pada 3 Maret 2016 di Hotel JW Marriott, Jakarta.

“Kami berkomitmen untuk membantu masyarakat berbuat lebih banyak, merasa lebih baik dan hidup lebih lama,” ujar Pawan Sud, Presiden Direktur PT. Sterling Product Indonesia (GSK Consumer Healthcare Indonesia).

Riset GSK terhadap seribu responden menunjukkan 97 % masyarakat Indonesia tahu tentang demam berdarah, tetapi hanya mengenal tiga gejala DBD. Masih banyak yang tidak mengetahui cara penanganannya sehingga berisiko salah pemberian obat.

“Ada pasien demam tinggi yang sampai muntah darah. Ternyata setelah diperiksa, ia tidak mengalami syok DBD melainkan iritasi lambung karena salah memberi obat,” tutur Prof. DR. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), Guru Besar Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI- RSCM.  Ia menambahkan, sebaiknya demam ditangani dengan obat parasetamol yang memiliki efek samping paling ringan.

DR. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI menambahkan angka kematian anak akibat DBD memang kurang dari 1%, tetapi ada setiap tahun. “Perlu tindakan preventif dari semua lini, termasuk Pemda untuk pemberantasan jentik nyamuk. Deteksi dini juga sangat penting agar ditangani dengan benar,” ujarnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik- kementerian Kesehatan RI drg. R. Vensya Sitohang, M. Epid menyebut semua orang berpotensi tertular DBD karena kita berada di negara tropis. “Nyamuk bisa hidup di mana-mana dan kasus DBD tidak pernah selesai dari tahun 1968,” katanya.

DBD pertama kali dilaporkan di negara kita pada 1968 di Jakarta dan Surabaya. Penyebarannya terus meluas,  dan menurut data Kemenkes, pada 2014 ada 8 provinsi yang insiden rate-nya berada di atas target pemerintah (51/100 ribu penduduk). Kedelapan provinsi itu adalah Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Utara.

“Sangat mengejutkan, penduduk Jakarta termasuk yang memiliki pengetahuan paling rendah tentang DBD,” ujar Pawan Sud. Melalui gerakan ini, GSK akan menyebarkan edukasi tentang DBD lewat apotek, gerakan PKK dan lainnya di berbagai kota, terutama Jakarta dan Surabaya. “Target di tahun pertama adalah 10 ribu orang,” tambahnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *