Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Ginjal Sehat Untuk Semua dan Dimana Saja

Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day atau WKD) sudah diperingati secara global sejak 2006 yang jatuh pada setiap hari kamis di minggu kedua di bulan maret yang jatuh pada tanggal 12 Maret kembali diperingati di Indonesia dengan tema ‘Ginjal sehat untuk semua dimana saja’. Pada hari Ginjal Sedunia mempunyai misi penting yang ingin disampaikan yaitu untuk mengingatkan kita mengenai kesadaran akan kesehatan ginjal dalam kehidupan kita serta juga untuk mendorong semua orang untuk dapat mengenali risiko penyakit yang dapat menyerang organ tubuh khususnya ginjal, dan di tahun ini mempunyai tema dimulai dari pencegahan, deteksi dini sampai pada ke pemerataan akses pelayanan untuk semua masyarakat luas.

Penyakit Ginjal Konik (PGK) ditandai dengan kerusakan ginjal atau gangguan fungsi ginjal yang berjalan lebih dari 3 bulan. Penyakit ginjal kronik merupakan penyakit yang bersifat progresif, bila tidak ditatalaksana secara optimal akan berujung pada penyakit ginjal tahap akhir (gagal ginjal). Bilamana terjadi gagal ginjal, maka diperlukan terapi pengganti ginjal dengan 3 modalitas pilihan terapi yaitu hemodialisis (cuci darah), peritoneal dialisis (CAPD) dan transplantasi ginjal.

Aida Lydia, PhD., SpPD-KGH, Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) mengatakan, ”Data kejadian PGK di dunia diperkirakan sekitar 11-13% dengan mayoritas pasien berada pada stadium 3. Penyakit ginjal tahap akhir (gagal ginjal) mengenai sekitar lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia. Angka ini hanya menunjukkan puncak dari fenomena gunung es, insiden PGK diperkirakan jauh lebih tinggi dari angka gagal ginjal. Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi PGK sebanyak 3,8 per mil. Jumlah ini meningkat hampir 2 kali lipat apabila dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu 2 per mil. Akan tetapi diperkirakan angka yang sebenarnya lebih tinggi dari itu. Pernefri di tahun 2006 melakukan penelitian di beberapa titik di Jawa dan mendapatkan kejadian PGK sekitar 12,5% ( Prodjosudjadi, 2006). Sedangkan data Indonesian Renal Registry (IRR, 2018) memperkirakan angka kejadian gagal ginjal yang memerlukan dialisis adalah sekitar 499 per juta penduduk. Beban penyakit ginjal amatlah besar, baik secara ekonomi maupun dampak terhadap kesehatan itu sendiri. Dialisis menghabiskan dana BPJS keempat tertinggi setelah penyakit jantung, kanker dan stroke. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menekan angka kesakitan dan angka kematian yang tinggi serta sekaligus mengurangi beban ekonomi negara adalah dengan melakukan pencegahan penyakit ginjal sedini mungkin.”

Dalam presentasinya, Ia mengungkapkan, “Penyebab utama terjadinya gagal ginjal di lndonesia adalah hipertensi (36%) dan diabetes (28%). PGK dan gagal ginjal bisa dicegah, dan progresivitas penyakitnya menuju gagal ginjal dapat diperlambat. Sesuai dengan tema WKD 2020, yang dimaksud dengan pencegahan penyakit ginjal adalah berbagai upaya untuk terus menjaga hidup sehat dengan cara melakukan aktivitas fisik teratur, mengontrol tekanan darah dan gula darah, menjaga berat badan ideal dan makan makanan yang sehat, minum air yang cukup, tidak merokok, tidak mengonsumsi obat-obatan secara bebas tanpa resep dokter, dan memeriksa fungsi ginjal terutama apabila berisiko mendapatkan gangguan ginjal. Pencegahan mengenai PGK dengan mengidentifikasi orang yang berisiko terkena PGK yaitu dengan mengedukasi untuk mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta menerapkan pola hidup sehat. Pencegahan sekunder berupa diagnosis dini gangguan ginjal yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan urin dan darah untuk mengetahui fungsi ginjal. Dengan demikian pengobatan dapat dilakukan sedini mungkin. Sementara pencegahan tersier lebih ditujukan untuk tatalaksana komplikasi PGK yang optimal, seperti anemia, sesak napas dan kelebihan cairan, gangguan mineral dan tulang, serta komplikasi ke jantung.”

Tentang arti penting peningkatan akses pelayanan ginjal dan bagaimana kondisi saat ini dan rencana kedepan, ia menjelaskan, ”Pada saat ini, masih banyak tantangan di Indonesia dalam pelayanan kesehatan ginjal. Jumlah pasien yang kian bertambah, sementara jumlah tenaga kesehatan belum memadai dan distribusi yang belum merata, dana kesehatan yang terbatas dan fasilitas layanan yang masih perlu ditingkatkan. Kami menyadari bahwa pemerataan akses untuk pelayanan kesehatan ginjal masih perlu digalakkan dengan sungguh sungguh agar seluruh lapisan masyarakat dapat terlayani dengan baik. Kerjasama pemerintah sebagai pembuat kebijakan dengan seluruh stakeholder terkait, tenaga kesehatan, organisasi profesi serta masyarakat luas penting untuk ditingkatkan agar cita-cita masyarakat Indonesia yang sehat dapat terwujud.”

dr.Parulian Simandjuntak, Managing Director PT Fresenius Medical Care Indonesia mengemukakan, “Kami menyadari dukungan dari semua pihak termasuk sektor swasta dan masyarakat diperlukan untuk mewujudkan ‘Ginjal Sehat untuk setiap orang dimana saja’. Oleh karena itu, PT Fresenius Medical Care Indonesia berkomitmen untuk bersama-sama Pemerintah dan masyarakat melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesehatan ginjal di seluruh Indonesia.”

Dan PT Fresenius Medical Care Indonesia secara simultan melakukan program-program Corporate Social Responsibility (CSR). Dan pada tahun-tahun sebelumnya telah melakukan beberapa kegiatan, yaitu komunikasi informasi dan edukasi kesehatan ginjal melatih tidak kurang dari 100 kader kesehatan dan dokter pada layanan primer melalui Sunrise Project dalam upaya deteksi dini Penyakit Ginjal Kronik di wilayah Jakarta Timur ini, sebagai pilot project bekerjasama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI). Sesuai dengan nama project, SUNRISE atau matahari terbit di pagi hari merupakan semangat dari project ini untuk mendeteksi sedini mungkin faktor risiko penyakit ginjal kronis di masyarakat luas. Dan pada tahun ini, sebagai kelanjutan program-program sebelumnya, Fresenius Medical Care Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI dan PERNEFRI akan kembali melanjutkan kerja sama dalam berbagai bentuk kegiatan yang telah disepakati dan difokuskan kepada upaya peningkatan hidup sehat, pencegahan penyakit ginjal dan tentunya peningkatan layanan home dyalisis.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *